Publication
Article
PEMBANGUNAN EKONOMI BERBASIS PENGETAHUAN DAN SDA BAG. I
PEMBANGUNAN EKONOMI BERBASIS PENGETAHUAN DAN SDA BAG. I
Suara Pembaruan, Rabu, 5 Agustus 2009
Dengan kekayaan alam berlimpah, jumlah penduduk 230 juta orang (terbesar keempat di dunia), dan posisi geoekonomi yang sangat strategis (diantara Benua Asia dan Australia, serta Samudera Pasifik dan Hindia), sejatinya Indonesia memiliki semua potensi untuk menjadi bangsa besar yang maju, adil-makmur, dan berdaulat. Namun, sudah 64 tahun merdeka, status Indonesia masih sebagai negara berkembang dengan angka pengangguran dan kemiskinan yang tinggi serta daya saing ekonomi rendah.
Dalam lingkup ASEAN saja, indeks pembangunan manusia kita hanya diatas Kamboja, Laos, dan Myanmar (UNDP, 2008). Banyak faktor yang menyebabkan kita tertinggal, namun yang paling menentukan adalah belum adanya visi pembangunan ekonomi yang benar dan dilaksanakan secara konsisten serta berkesinambungan. Selama ini, setiap ganti pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah, kebijakan pembangunan pun turut berubah. Apa yang dikerjakan oleh pemerintah yang lalu semuanya dianggap salah. Akibatnya, akumulasi kemajuan pembangunan menjadi lamban dan tidak signifikan.
Oleh sebab itu, di tengah arus globalisasi serta tekanan multi krisis mondial (ekonomi, pangan, BBM, dan global warming), kini saatnya kita mengembangkan sistem ekonomi nasional yang mampu menciptakan kedaulatan pangan, energi, bahan sandang, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya; dan secara simultan mengekspor barang dan jasa (goods and services) yang berdaya saing tinggi. Atas dasar potensi pembangunan yang kita miliki dan dinamika lingkungan strategis global, maka sistem ekonomi nasional yang berdaya saing dan berdaulat itu paling mungkin diwujudkan melalui pembangunan berbasis SDA (sumber daya alam) dengan menerapkan IPTEK dan etos kerja unggul.
Tambak Udang
Sedikitnya ada enam alasan yang mendasari keyakinan tersebut. Pertama, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan kekayaan alam beragam dan sangat besar. Jika potensi ini dikelola secara profesional, maka dalam jangka pendek dan menengah (5-10 tahun) ekonomi berbasis SDA dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi tinggi, kesempatan kerja dalam jumlah besar, dan ketahanan pangan serta energi nasional.
Sekadar contoh, jika kita mampu mengusahakan 500.000 ha tambak udang (40% dari potensi total) dengan produktivitas rata- rata dua ton per hektar per tahun, maka dapat dihasilkan satu juta ton udang dengan devisa sekitar US$ 5 per tahun, setara dengan devisa dari total ekspor tekstil saat ini. Tenaga kerja yang dapat disediakan oleh aktivitas tambak udang ini sekitar tiga juta orang.
Dengan mengusahakan 1 juta ha budidaya rumput laut (30% total potensi), dapat diproduksi sekitar 16 juta ton rumput laut kering per tahun. Bila kita ekspor 10 juta ton/tahun dengan harga sekarang US$ 0,7/kg, maka akan diperoleh devisa sebesar US$ 7 miliar/tahun. Jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 3,5 juta orang. Apalagi, kalau rumput laut itu diproses menjadi berbagai semi-refined products (seperti agar, karaginan, alginat, makanan dan minuman) atau refined products(seperti bahan pencampur coklat, milk shake, es krim, permen, pasta gigi, salep, pelembab, shampoo, lotion, industri cat, tekstil, dan film); tentu devisa, pendapatan negara, tenaga kerja, dan multiplier effects yang dihasilkan menjadi berlipat ganda. Padahal, masih banyak komoditas perikanan lain yang harganya tinggi dan laku keras di pasar domestik maupun ekspor, antara lain udang, tuna, kerapu, kakap, baronang, patin, nila, ikan hias, kerang mutiara, teripang, cerax, dan abalone.
Total luas lahan Indonesia yang sesuai untuk perkebunan sawit sekitar 12 juta ha (terluas di dunia), dan baru diusahakan sekitar 7 juta ha. Pada 2008 Indonesia memperoduksi CPO (minyak sawit mentah) sebanyak 18 juta ton (terbesar di dunia), diikuti oleh Malaysia 15 juta ton. Namun, produktivitas kebun sawit Indonesia rata-rata sekitar 12 ton CPO/ha/tahun, jauh lebih rendah ketimbang Malaysia yang mencapai 25 ton CPO/ha/tahun. Sebanyak 65% ekspor Indonesia berupa CPO, dan 35% sisanya berupa produk olahan. Sedangkan, Malaysia 70% ekspornya berupa produk antara dan produk jadi, dan hanya 30% berupa CPO. Produk antara (intermediary products) dari CPO antara lain adalah fatty acid, fatty alcohol, glycerine, dan methyl ether. Dan, produk jadi (finished products) nya antara lain berupa minyak goreng, surfaktan, sabun, berbagai produk makanan, beragam produk farmasi, berbagai produk kosmetik, dan bioenergi.
Masih banyak komoditas perkebunan lainnya yang bernilai strategis, seperti kopi, teh, cokelat, karet, tebu, tembakau, vanila, kapas, pisang abaca, dan lada. Kita pun memiliki lahan pertanian yang cukup luas dan cocok untuk budidaya berbagai jenis tanaman pangan, seperti padi, jagung, kedelai, kacang tanah, singkong, dan lainnya. Demikian pula halnya untuk hortikultura (buah-buahan dan sayuran) serta tanaman obat (jahe, kumis kucing, temu lawak, kunyik, dan lainnya).
Energi Terbarukan
Sebagai negara yang memiliki hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, seharusnya sektor kehutanan (hutan alam, hutan tanaman industri, produk non-kayu, dan segenap produk hilirnya) pun dapat lebih berperan bagi kemajuan dan kemakmuran bangsa. Indonesia juga dikaruniai potensi energi terbarukan yang sangat besar dan mampu memenuhi kebutuhan energi nasional sepanjang masa, tidak perlu menghadapi krisis BBM seperti kita alami dalam 5 tahun terakhir. Selain hydropower, geothermal, energi surya, angin, dan energi kelautan (arus pasang-surut, gelombang, dan OTEC); energi terbarukan yang berasal dari tanaman (bioenergy) pun potensinya sangat besar. Lebih dari 50 jenis tanaman seperti aren, jarak, sawit, kelapa, tebu, singkong, jagung, dan bunga matahari, dapat diproses menghasilkan bioenergy (biodiesel dan bioetanol).
Kedua, seiring dengan terus bertambahnya jumlah penduduk Indonesia maupun dunia yang akan mencapai 300 juta dan 8 miliar pada tahun 2020, maka permintaan domestik maupun global terhadap bahan pangan, serat, kayu, obat-obatan, kosmetik, energi, dan jasa-jasa lingkungan yang berasal dari ekosistem alam pun bakal berlipat ganda. Padahal negara-negara lain, terutama negara-negara maju, hampir semua ekosistem alamnya telah dikonversi menjadi kawasan perumahan, kota, industri, pertanian, jalan, dan prasarana pembangunan lainnya. Oleh sebab itu, negara yang kaya SDA, khususnya Indonesia, akan memiliki keunggulan komparatif. Bila keunggulan komparatif ini kita kelola dengan menerapkan IPTEK dan akhlak mulia, maka ekonomi berbasis SDA akan menjadi keunggulan kompetitif yang mampu mendongkrak daya saing ekonomi Indonesia secara dramatis.
Ketiga, bahwa negara dengan penduduk lebih besar dari 100 juta jiwa, jika kebutuhan pangannya bergantung pada pasokan impor, maka akan susah maju dan mandiri (FAO, 1998). Keruntuhan Uni Soviet adalah salah satu bukti telanjang dari fenomena ini.
Keempat, sebagian besar kegiatan sektor ekonomi berbasis SDA berlangsung di daerah pedesaan, pesisir, pulau-pulau kecil, atau di luar Jawa dan Bali. Sehingga, membantu penyelesaian permasalahan nasional yang hingga kini belum terpecahkan, yakni urbanisasi, brain drain, persebaran penduduk yang tidak merata, dan ketimpangan pembangunan antar wilayah.
Kelima, sehubungan dengan sifatnya yang terbarukan, maka jika dikelola secara bijaksana, sektor ekonomi berbasis SDA terbarukan dapat menjamin pembangunan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.
Keenam, mayoritas rakyat Indonesia (75%) bekerja di lima sektor ekonomi berbasis SDA, yakni pertanian, kelautan dan perikanan, kehutanan, pertambangan dan energi (ESDM), dan pariwisata. Maka, adalah pilihan yang tepat dan cerdas bila kita memperkuat dan mengembangkan kelima sektor ini.
Jika kita mampu menjadikan sektor ekonomi ini lebih efisien, berdaya saing, dan berkeadilan secara berkelanjutan; maka akan tumbuh kembang berbagai basis usaha ekonomi rakyat dan pusat-pusat kemakmuran yang tidak hanya terkonsentrasi di wilayah perkotaan, Jawa, dan Bali; melainkan tersebar merata di seluruh wilayah Nusantara. Lebih dari itu, petani, nelayan, pekerja kehutanan, pekerja tambang, dan pekerja pariwisata yang makmur dengan daya beli tinggi juga akan membeli lemari es, televisi, handphone, buku, sepatu, tas, sepeda motor, mobil, dan produk industri manufakturing serta industri kreatif lainnya. Dengan demikian, industri elektronik, otomotif, industri manufakturing, industri kreatif, jasa transportasi, hotel, jasa keuangan, dan sektor ekonomi lainnya pun akan terdongkrak secara sangat signifikan.


