Publication
Journal
JURNAL PESISIR, VOL. 8 NO. 1. 2007
JURNAL PESISIR, VOL. 8 NO. 1. 2007

KOMUNITAS INTERTIDAL BERSUBSTRAT PASIR, KARANG DAN BERBATU PADA MUSIM HUJAN DAN MUSIM KEMARAU DI SUMBAWA BARAT
Yulianda, Fredinan
Abstract - Intertidal areas at coastal Southern part of West Sumbawa consist of three types of habitat, such as sandy beach at Madasanger, coral beach at Mangkun and stony beach at Puna. Intertidal communities generally live at habitats diveded into three zones, such as sea grass zone at high tide, sea grass and seaweed zone at mid tide, and seaweed and coral zone.
Sea grass community is more stable than other communities like seaweed, coral and fauna. Fulctuations of community structure and population occurred naturally based on rain and dry season during six years. Environment condition was still good and it did not fluctuated extremly, except coral bleaching occured at Mangkun in 2002. The changes of community structure and population are caused generally by natural factors and biota collecting by local people.
Key words: Intertidal, sea grass, seaweed, coral and fauna
Abstrak - Daerah pasang surut pesisir Sumbawa Barat bagian Selatan yang terdiri dari tiga tipe habitat, yaitu habitat berpasir di Madasanger, habitat berkarang di Mangkun dan habitat berbatu di Puna. Pada umumnya daerah pasang surut mempunyai tiga zonasi, yaitu zona komunitas lamun pada daerah pasang atas, zona komunitas lamun dan rumput laut pada daerah pasang tengah, dan zona komunitas rumput laut dan karang.
Komunitas lamun mempunyai tingkat kestabilan yang paling baik dibandingkan dengan komunitas rumput laut, karang dan fauna. Perubahan komposisi komunitas dan jumlah populasi terjadi secara alami berdasarkan musim hujan dan kemarau selama periode enam tahun. Kondisi lingkungan masih relatif baik dan tidak mengalami perubahan ekstrim, kecuali kejadian coral bleaching di Mangkun pada tahun 2002. Perubahan komposisi komunitas dan populasi umumnya disebabkan oleh faktor alam dan kegiatan pengambilan biota oleh penduduk setempat.
Kata kunci: Intertidal, lamun, rumput laut, karang dan fauna
URGENSI KETERPADUAN LINTAS SEKTOR DAN DAERAH DALAM PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN PULAU - PULAU KECIL
Mawardi, Ikhwanuddin
INTISARI - Indonesia merupakan wilayah kepulauan yang terdapat 17.000 pulau kecil yang 6000-an diantaranya telah bernama. Sebagian dari pulau-pulau kecil tersebut terdapat di Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang relatif tertinggal dan terisolir dibandingkan dengan Kawasan Barat Indonesia. Berbagai permasalahan mengenai pulau-pulau kecil terbagi dalam 3 (tiga) kelompok diantaranya pulau-pulau kecil yang terletak di perbatasan antar negara dan antar daerah, pulau-pulau kecil yang terancam tenggelam atau hilang, pulau-pulau kecil pasca tambang, dan pulau-pulau kecil yang berpotensi konflik cukup tinggi baik horisontal maupun vertikal. Kendala-kendala yang dihadapi dalam pengembangan pulau-pulau kecil yaitu ukurannya yang relatif kecil dan cenderung terisolir, kesukaran atau ketidakmampuan untuk mencapai skala ekonomi (economies of scale) yang optimal dan menguntungkan, rendahnya ketersediaan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan untuk mendukung berkembangnya ekosistem pulau kecil, kehidupan manusia, serta pembangunan yang dilaksanakan di dalamnya, serta belum terakomodasinya atau bahkan terjadinya pertentangan antara budaya lokal kepulauan dalam kegiatan pembangunan.
Pulau-pulau kecil tersebut memiliki berbagai potensi pengembangannya diantaranya pulau-pulau kecil yang diperuntukkan bagi kawasan konservasi karena karakteristiknya yang khas, pulau-pulau kecil yang merupakan kawasan strategis dan cepat tumbuh serta pulau-pulau kecil yang potensial untuk bidang investasi.
MODEL DAYA DUKUNG EKOLOGI “ECOLOGICAL FOOTPRINT” PENGEMBANGAN PULAU WETAR
Yonvitner
Abstratc - Ecological footprint concept has developed at foreign country for valuation of carrying capacity a region. But there, no many institution apply these approach to developing their activities to set a management plan. Ecological footprint evaluate is analysis of the ability that related with their productivity, and carrying capacity of area to sustaining activity in the future. This approach used to arrange transmigration concept in Wetar Island. Based on local need approach, and global productivity, assessing the Wetar Island capacity to sustaining of people reach 125.425 person. That mean, both terrestrial and marine resources of Wetar Island may taking care of people until 125.425 without import of resource to Wetar Island.
Keywords: footprint, carrying capacity, productivity resources, Wetar Island
Abstrak - Konsep ekologi foot print sudah berkembang di negara lain dalam menilai daya dukung suatu kawasan. Namun demikian belum banyak lembaga yang menerapkan pedekatan ini untuk mengembangkan aktivitas terkait dengan suatu rencana pengembangan. Ekologi footprint menekankan pada penilaian kemampuan untuk menganalisis tingkat produktivitas kawasan, dan kapasitas daya dukung yang bisa di tampung untuk tetap bertahan. Sesuai dengan rencana pengembangan kawasan transmigrasi, kemudian di kembangkan konsep footprint untuk menyusun scenario perencanaan. Berdasarkan pendekatan kebutuhan lokal dengan produktivitas gobal yang digunakan diperkirakan kemampuan Pulau Wetar untuk menampung kehidupan masyrakat mencapai 125.425 orang. Artinya, dengan kondisi masyarakat yang ada saat ini, tanpa melalui import barang, sumberdaya di darat dan perairan Pulau Wetar mampu menghidupi masyarakat sejulah tersebut.
Kata Kunci: footprint, daya dukung, produktivitas, sumberdaya, Pulau Wetar.
PENGELOLAAN SUMBERDAYA WILAYAH PESISIR KOTA BENGKULU (TINJAUAN ANALISIS DEGRADASI SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP)
Masyhudzulhak
Abstract - This research aim to for the showing of influence of exploiting of fisheries resource to change of fishery resource. Assessment by doing calculation of difference of real production and optimal production including production input . Result of from this research actually influence of fishery resource regardless of everlasting potency result big change. Change that happened to fishery resource is in the year 1999-2002. This matter refer an autonomy management of uncommitted fishery resource in Kota Bengkulu.Strategy which needed to do to minimize the storey;level degradation of fishery resource that is: doing the arrangement, reinforcement of institute, and development of human resource
Keyword: degradation, Optimal of Management.
Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk memamparkan pengaruh pemanfaatan sumber daya perikanan terhadap perubahan sumber daya perikanan. Penilaian. Dengan cara melakukan perhitungan dari perbedaan produksi aktual dan produksi optimal termasuk input produksi. Hasil dari penelitian ini ternyata pengaruh sumber daya perikanan tanpa memperhatikan potensi lestari mengakibatkan perubahan yang besar. Perubahan
Last Updated (Friday, 04 June 2010 10:40)


